Rabu, 30 April 2014

Perbedaan Adblock dengan Adblock plus

Chrome Ekstensi adalah program kecil yang memodifikasi dan meningkatkan fungsionalitas dari browser Chrome. Dua ekstensi yang paling populer tercantum dalam Webstore browser chrome adalah "AdBlock" dan "Adblock Plus" - tapi yang mana dari keduanya adalah yang lebih baik ? Postingan ini akan menjelakan perbedaan antara dua ekstensi pemblokiran iklan yaitu "AdBlock" dengan "Adblock Plus".

[Review ini ditulis oleh Tom dari chrome - plugins.org, proyek non -profit yang berisi ekstensi, aplikasi, dan tema untuk browser Google Chrome]

AdBlock diciptakan oleh pengembang independen untuk Chrome dan Safari ketika Adblock Plus masih hanya tersedia untuk Firefox. Dia mengaku telah terinspirasi oleh gerakan Adblock Plus tetapi tidak berkaitan dengan hal itu. Sebaliknya, ia bekerja pada AdBlock untuk keuntungan dari sumbangan serta dibayar klon pengguna dapat membeli secara sukarela untuk mendukung dia. Kedua ekstensi adblock memberikan fungsi persis yang anda harapkan dari mereka, semua iklan yang handal diblokir pada setiap website. Ekstensi sendiri tidak memblokir apa-apa - elemen yang tidak diinginkan seperti iklan ditentukan oleh daftar filter.

Adblock Plus untuk Chrome diciptakan oleh komunitas Adblock Plus, sebuah gerakan open-source yang didukung oleh banyak kontributor sukarela yang bertujuan untuk membuat internet menjadi lebih baik untuk semua orang dengan menghilangkan iklan yang buruk. Ini pada awalnya diciptakan untuk Firefox dan baru-baru ini diporting sebagai versi beta untuk Chrome. Dengan lebih dari 125 juta pengunduhan itu adalah addon browser yang paling populer di dunia.

Kedua AdBlock dan Adblock Plus untuk Chrome menggunakan daftar filter yang sama dengan Adblock Plus untuk Firefox. Sementara ini bekerja dengan baik pada spanduk dan lapisan iklan, memblokir iklan tertanam dalam video ini tidak mungkin karena keterbatasan dalam kemampuan pemblokiran browser Chrome. Adblock Plus telah menerapkan solusi dengan keterbatasan yang sayangnya hanya bekerja pada Youtube.com dan bukan pada situs video lain atau video tertanam.

Sementara kedua ekstensi bekerja hampir pada tingkat yang sama , analisis yang lebih rinci diperlukan dalam rangka untuk mengetahui mana salah satunya adalah AdBlocker yang lebih baik :




Adblock
Adblock Plus

Proses instalasi

8

10

Dalam proses instalasi, AdBlock memiliki poin yang kecil dibanding Adblock Plus karena fakta bahwa jendela dibuka mengganggu saat proses instalasi yang meminta sumbangan untuk pengembang.

Antarmuka pemakai

9

7

Untuk antarmuka pemakai, Adblock Plus masih dalam versi beta dan memiliki antarmuka yang agak minimalis. Sedangkan AdBlock sebaliknya.

Kecepatan

8

10

Dalam hal kecepatan, pada AdBlock memperlambat browser ketika banyak tab dibuka. Sedangkan pada AdBlock Plus sebaliknya.

Memblokir iklan spanduk

10

10

Keduanya menggunakan daftar filter yang sama dan hampir tidak melewatkan setiap iklan spanduk dan lapisan iklan.

Memblokir iklan video

4

7

Dalam hal memblokir iklan video,pada AdBlock iklan video sering tidak dapat diblokir karena keterbatasan dalam browser Chrome. Sedangkan pada Adblock Plus melakukan secara signifikan lebih baik pada youtube.com.

Membuat filter sendiri

9

7

Keduanya menyediakan fungsionalitas untuk dengan mudah membuat aturan pemblokiran sendiri. Pada AdBlock membuat sedikit lebih mudah untuk memilih unsur-unsur yang tidak diinginkan pada sebuah website. Sedangkan pada AdBlock Plus sebaliknya.

Total

48

51

Kesimpulan: Jadi berdasarkan analisis kedua ekstensi bekerja hampir pada tingkat yang sama dalam rangka untuk mengetahui mana salah satunya adalah AdBlocker yang lebih baik. Sebagai kesimpulannya adalah Adblock Plus karena itu sedikit lebih canggih sebab tidak berdampak negatif terhadap kinerja browser dan bekerja lebih andal di youtube.com. Itu merupakan penilaian dari kami. Mungkin berbeda dengan penilaian saudara. Jika belum memiliki ekstensi “Adblock” maupun ekstensi “Adblock Plus”. Silahkan pilih salah satu yang mungkin cocok untuk anda instal.

SUMBER : http://www.freewaregenius.com

Minggu, 13 April 2014

5 Kriteria penilaian peringkat bank terbaik di Indonesia menurut Biro Riset Infobank

Untuk menilai peringkat bank terbaik di Indonesia dibutuhkan lima kriteria sebagai berikut:

1.           Permodalan (Capital Adequacy Ratio/CAR) adalah rasio keuangan yang berkaitan dengan permodalanperbankan dimana besarnya modal suatu bank berpengaruh pada mampu atau tidaknya suatu bank secara efisien menjalankan kegiatannya. CAR juga salah satu cara pengawasan terhadap permodalan di dunia perbankan. Perhitungan Modal dan AktivaTertimbang Menurut Risiko dilakukan berdasarkan ketentuan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum yang berlaku. Jadi, CAR atau Rasio Kecukupan Modal dihitung berdasarkan Modal Sendiri dibagi dengan Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR).

2.                   Aktiva Produktif terdiri dari:
Non Performing Loan (NPL) adalah debitur atau kelompok debitur yang masuk dalam golongan 3,4,5 dari 5 golongan kredit yaitu debitur yang kurang lancar, diragukan dan macet. Rasio  ini  menunjukkan bahwa  kemampuan  manjemen  bank  dalam  mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Sehingga semakin tinggi rasioini maka akan semakin buruk kualitas kredit  bank  yang  menyebabkan  jumlah  kredit  bermasalah semakin  besar  maka  kemungkinan  suatu  bank  dalam kondisi  bermasalah  semakin  besar. Jadi, NPL dihitung berdasarkan Total Kredit Bermasalah dibagi dengan Total Outstanding Kredit.
Pemenuhan Penghapusan Penyisihan Aktiva Produktif (P PPAP) menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam menetukkan besarnya PPAP yang telah dibentuk terhadap PPAP yang wajib dibentuk. Semakin besar PPAP maka semakin buruk aktiva produktif bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Jadi, Pemenuhan PPAP dihitung bedasarkan PPAP yang dibentuk dibagi dengan PPAP yang wajib dibentuk.

3.                   Rentabilitas terdiri dari:
Return On Asset (ROA) adalah kemampuan dari modal yang diinvestasikan ke dalam seluruh aktiva perusahaan untuk menghasilkan laba. ROA menggunakan laba sebagai salah satu cara untuk menilai dalam penggunaan aktiva perusahaan dalam menghasilkan laba. Semakin tinggi laba yang dihasilkan, maka semakin kecil ROA. Jadi, ROA dihitung berdasarkan Laba Sebelum Pajak dibagi dengan Rata-rata Total Aset.
Return On Equity (ROE) adalah Tingkat pengembalian yang dihasilkan oleh perusahaan untuk setiap satuan mata uang yang menjadi modal perusahaan. Rasio ini digunakan untuk mengukur kinerja manajemen bank dalam mengelola modal yang tersedia untuk menghasilkan laba setelah pajak. Semakin besar ROE, semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Rata-rata ekuitas : rata-rata modal inti (tier 1). Perhitungan modal inti dilakukan berdasarkan ketentuan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum yang berlaku.Jadi, ROE dihitung berdasarkan Laba Setelah Pajak dibagi dengan Rata-rata Ekuitas.

4.                   Likuiditas terdiri dari:
Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio yang mengukur kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus dipenuhi. Kewajiban tersebut berupa call money yang harus dipenuhi pada saat adanya kewjiban kliring, dimana pemenuhannya dilakukan dari aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Kredit yang dimaksud merupakan kredit yang diberikan kepada pihak ketiga (tidak termasuk kredit kepada bank lain). Sedangkan dabna pihak ketiga yang dimaksud antara lain giro, tabungan dan deposito(tidak termasuk giro dan dan deposito antar bank). Jadi, LDR dihitung berdasarkan Total Kredit dibagi dengan Total Dana Pihak Ketiga.

5.                  Efisiensi terdiri dari:
Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) merupakan rasio yang sering juga digunkan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengendalikan beban operasional terhadap pendapatan operasional. Semakin kecil rasio berarti semakin efisien beban operasional yang dikeluarkan bank yang bersangkutan sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin kecil. Jadi, BOPO dihitung berdasarkan Total Beban Operasional dibagi dengan Total Pendapatan Operasional.
Net Interest Margin (NIM) mencerminkan resiko pasar yang timbul karena adanya pergerakan variable pasar, dimana hal tersebut dapat merugikan bank. Pendapatan bunga bersih diperoleh dari pendapatan bunga dikurangi beban bunga. Aktiva produktif yang diperhitungkan adalah aktiva produktif yang menghasilkan bunga (interest bearing assets). Jadi, NIM dihitung berdasarkan Pendapatan Bunga Bersih dibagi dengan Rata-rata Aktiva Produktif.

Referensi:

Sabtu, 12 April 2014

Tips menghindari sasaran dari penjahat cyber

Menurut  Manajer Komunikasi Kaspersky Asia Tenggara Jesmond Chang, para pengguna android disarankan untuk menghindari kejahatan cyber dari infeksi malware dengan mengikuti langkah-langkah berikut:
  1. Jangan aktifkan “developer mode” pada perangkat android
  2. Jangan aktifkan opsi “install aplications from third-party sources” pada perangkat android
  3. Instal hanya aplikasi-aplikasi yang berasal dari sumber resmi
  4. Ketika menginstal aplikasi baru, lihat secara seksama hak dan kewajiban yang ditawarkan
  5. Gunakan software perlindungan untuk melindungi perangkat android pengguna
          Dengan mengikuti langkah-langkah diatas, dijamin perangkat android aman dari tindakan penyusupan yang dilakukan oleh penjahat cyber yang ingin mencuri data rahasia anda.

Refrensi:http://www.antaranews.com

Sabtu, 15 Maret 2014

MAKALAH PERKEMBANGAN SISTEM PERBANKAN INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan perbankan menunjukkan dinamika dalam kehidupan ekonomi. Sebelum sampai  pada praktik-praktik yang terjadi saat ini, ada banyak permasalahan yang terkait dengan masalah-masalah perbankan ini. Masalah utama yang muncul dalam praktik perbankan ini adalah pengaturan sistem keuangan yang berkaitan dengan mekanisme penentuan volume uang yang beredar dalam perekonomian.

Sistem perbankan di Indonesia dibedakan berdasarkan fungsinya yang terdiri dari Bank Sentral, Bank Umum, dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

Perkembangan perbankan yang semakin dinamis dan kompleks membuat otoritas moneter berusaha membuat Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Dengan adanya API, diharapkan bank nasional mampu bersaing tidak hanya pada segmen pasar domestik tetapi juga pada pasar internasional.
  
BAB II
ISI
A. Perkembangan Perbankan di Indonesia
         Situasi perbankan Indonesia praderegulasi
Pada periode tahun 1974-1982 perekonomian Indonesia berkembang cukup baik karena ditopang oleh ekspor migas yang cukup tinggi. Tingginya harga minyak pada saat itu memengaruhi penerimaan dalam negeri sehingga dana pembangunan cukup tersedia untuk menunjang kegiatan investasi. Pada saat itu masyarakat yang belum menemukan sasaran investasi yang tepat menyimpan dana nya di bank sehingga terjadi kelebihan likuiditas yang cukup besar. Di samping itu juga Bank Indonesia (central bank) menyediakan kredit likuiditas dengan syarat yang mudah dan lunak untuk membiayai pengembangan sektor yang potensial.

      Situasi perbankan Indonesia pascarederegulasi
Perkembangan perbankan di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup pesat beberapa tahun terakhir ini. Hal itu disebabkan oleh adanya serangkaian langkah deregulasi di bidang perbankan.

     Perkembangan jumlah bank dan kantor bank
Selama periode tahun 2004-2009 jumlah bank dan kantor bank termasuk bank perkreditan rakyat mengalami peningkatan yang sangat pesat. Selama 6 tahun jumlah bank mengalami pertumbuhan sebesar 92,48% atau menurun rata-rata -7,52% setiap tahun. Dalam tahun 2004 terdapat 133 bank, turun menjadi 123 pada tahun 2009. Selain itu selama 6 tahun terakhir jumlah kantor bank mengalami pertumbuhan 157,456% atau meningkat rata-rata setiap tahun 57,45% yaitu dari 7.939 kantor bank pada tahun 2004 menjadi 12.500 kantor bank pada tahun 2009.

B. Sistem Perbankan di Indonesia
Bank-bank yang beroperasi di Indonesia saat ini pada dasarnya dikelompokkan ke dalam Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Sedangkan Bank Indonesia berfungsi sebagai bank sentral. Namun demikian, sejalan dengan terjadinya perubahan dalam sistem keuangan terutama yang terkait dengan kelembagaan perbankan sebagai dampak dikeluarkannya undang-undang di bidang keuangan dan perbankan.

C. Arsitektur Perbankan Indonesia (API)
Arsitektur Perbankan Indonesia merupakan suatu kerangka dasar sistem perbankan Indonesia yang bersifat menyeluruh dan memberikan arah, bentuk, dan tatanan industri perbankan untuk rentang waktu 5 sampai 10 tahun ke depan.  
         
Sistem perbankan yang sehat dibangun dengan permodalan yang kuat sehingga akan mendorong kepercayaan nasabah (stakeholder) yang pada akhirnya akan mampu memperkuat permodalan melalui pemupukan laba ditahan. Selanjutnya perbankan nasional yang beroperasi secara efisien akan mampu meningkatkan daya saingnya sehingga tidak hanya mampu bersaing di pasar domestik tetapi justru diharapkan produk dan jasa perbankan yang ditawarkan bank nasional mampu bersaing di pasar Internasional. Oleh karenanya, dalam 10-15 tahun ke depan, API menginginkan adanya 2 sampai 3 bank dengan skala bank internasional, 3 sampai 5 bank nasional, 30 sampai 50 bank yang kegiatan usahanya terfokus pada segmen usaha tertentu, dan BPR serta bank dengan kegiatan usaha terbatas.
  
BAB III
KESIMPULAN

Perbankan di Indonesia telah mengalami perkembangan mulai dari praderegulasi sampai pascaderegulasi. Perkembangan perbankan yang semakin dinamis dan kompleks membuat otoritas moneter berusaha membuat Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Dengan adanya API, diharapkan menciptakan perbankan yang sehat, kuat dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Latumaerissa, Julius R.2011.BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN LAIN.Jakarta:Salemba Empat.
Budisantoso, Totok & Sigit Triandaru.2006.BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN LAIN.Jakarta :Salemba empat
Budi Hermana, , Modul Bahan Ajar Terapan Komputer Perbankan, 2003
Edward W. Reed and Edward K. Gill, Bank Umum, Bumi Aksara, Jakarta, 1995
Kasmir, SE., MM, Bank dan Lembaga keuangan Lainnya, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2008
Soediono Reksoprayitno, Pengantar Manajemen Bank Umum, seri diktat kuliah, Gunadarma

Rabu, 04 Desember 2013

Tugas Softskill Minggu Keempat

Deskripsi Proses Bisnis Beserta Flowchart Dalam Siklus Pembelian Kredit
A.Pendahuluan
Definisi Pembelian kredit
Pembelian kredit adalah pembelian yang dilakukan oleh perusahaan yang dalam pembayarannya dilakukan secara bertahap atau secara angsuran kepada pemasok. Dalam pembelian kredit umumnya sebelum melakukan transaksi pembelian harus mendapat otorisasi terhadap pembelian yang dilakukan. (Menurut Mulyadi,Sistem Akuntansi).
Definisi Siklus Pembelian
Siklus pembelian adalah suatu kegiatan atau transaksi pembelian, baik itu secara tunai maupun kredit dalam suatu organisasi. (Menurut Mulyadi,Sistem Akuntansi).
Definisi Sistem Informasi Akuntansi Pembelian
Sistem Informasi Akuntansi Pembelian adalah suatu sistem pembelian atau suatu sistem transaksi untuk mendapatkan barang-barang baik secara kredit maupun secara tunai di dalam suatu organisasi / perusahaan yang merupakan kombinasi dari orang-orang, fasilitas, teknologi, media, prosedur-prosedur dan pengendalian yang ditujukan untuk mendapatkan jalur komunikasi yang penting, memberi sinyal kepada management dan menyediakan suatu dasar informasi pembelian untuk pengambilan keputusan yang cerdik. (Menurut Mulyadi,Sistem Akuntansi).
Pembelian pada dasarnya dibagi menjadi 2 jenis, yaitu :
1. Pembeliaan secara kredit
2. Pembelian secara tunai
Disini saya hanya menjelaskan satu saja yaitu Pembelian secara Kredit. Sedangkan Pembelian secara tunai dijelaskan lain waktu.

B.Pembahasan
Berikut penjelasan tugas masing-masing bagian dalam perusahaan :

Bagian supplier :
1. Membuat surat permintaan barang
2. Menyiapkan daftar harga barang
3. Menerima dan menyetujui surat penawaran harga
4. Menerima surat order pembelian barang
5. Menyiapkan nota dan barang yang dipesan
6. Menerima pembayaran dari customer pada saat jatuh tempo

Bagian Pembelian :
1. Menerima daftar persediaan barang dari bagian gudang
2. Membuat surat permintaan harga
3. Memilih barang yang akan dibeli
4. Membuat surat pemesanan barang dan surat permintaan kredit
5. Menerima barang dan melakukan pengecekan
6. Mengirim barang ke gudang
7. Melakukan pembayaran

Bagian Gudang :
1. Membuat daftar persediaan barang
2. Menerima barang yang dipesan
3. Menyimpan barang

Bagian Keuangan :
1. Mengecek daftar barang yang dibeli
2. Membuat surat permintaan penawaran harga
3. Membuat surat permohonan kredit
4. Membuatlaporan pembelian barang
5. Melakukan pembayaran pada saat jatuh tempo
6. Membuat laporan pertanggungjawaban kepada pemimpin

Bagian Pimpinan :
1. Menerima laporan pertanggungjawaban pembelian barang
2. Melakukan pengecekan barang
 Berikut merupakan Flowchart Pembelian Kredit Berdasarkan Penawaran Supplier :


Berikut merupakan penjelasan dari flowchart pembelian kredit berdasarkan penawaran supplier :
Bagian supplier mengirimkan SPH (Surat Penawaran Harga) ke bagian pembelian. Bagian pembelian menerima SPH dari pemasok lalu membuat permintaan daftar barang yang dikirim ke bagian gudang. Bagian gudang menerima permintaan daftar barang lalu membuat daftar barang yang ada dan dikirimkan ke bagian pembelian. Bagian pembelian menerima daftar barang yang ada lalu memutuskan apakah akan memesan atau tidak. Jika tidak akan memesan maka berakhir, tetapi juka mau memesan maka bagian pembelian akan membuat SPP(Surat Permintaan Pembelian) yang dikirim ke pemimpin. Pemimpin setelah menerima SPP dari bagian pembelian, jika menyetujuinya akan mengacc SPP. SPP yang telah diacc dikirim ke bagian pembelian. Bagian pembelian setelah menerima SPP yang telah diacc akan membuat SOP(Surat Order Pembelian) rangkap 4. SOP lembar 1 akan dikirimkan kepada supplier,SOP lembar kedua akan dikirimkan ke bagian gudang, SOP lembar ketiga akan dikirimkan ke bagian keuangan dan SOP lembar keempat akan disimpan sebagai arsip. Supplier menerima SOP dari bagian pembelian. Setelah itu supplier membuat faktur, lalu mengirimkan faktur beserta barang yang dibeli kepada bagian pembelian. Bagian pembelian menerima barang dan faktur dari supplier setelah itu mengirimkan barang dan faktur ke bagian gudang. Bagian gudang menerima barang dari bagian pembelian. Bagian gudang membuat laporan penerimaan barang rangkap 2 berdasarkan barang dan SOP. Laporan penerimaan barang lembar 1 disimpan sebagai arsip, sedangkan lembar kedua dikirim ke bagian keuangan beserta dengan faktur. Bagian keuangan membuat laporan pembelian kredit rangkap 2 berdasarkan SOP,faktur dan laporan penerimaan barang. Laporan pembelian kredit lembar pertama akan disimpan sebagai arsip dan laporan keuangan kedua akan dikirmkan ke pemimpin.
Berikut merupakan Flowchart Pembelian Kredit Berdasarkan Inisiatif Perusahaan : 


Berikut merupakan penjelasan dari flowchart pembelian kredit berdasarkan inisiatif perusahaan :
Bagian Gudang yang biasanya membutuhkan barang, membuat SPP (Surat Permintaan Pembelian) rangkap 2. Lembar 1 dikirim ke Bagian Pembelian, dan lembar 2 disimpan oleh Bagian Gudang sebagai arsip. Bagian Pembelian menerima SPP lembar 1 dari Bagian Gudang. Berdasarkan SPP lembar 1, maka Bagian Pembelian membuat SPPH. SPPH tersebut dikirimkan ke Bagian Supplier. Dan Supplier membuat SPH. SPH tersebut dikirimkan ke Bagian Pembelian. Berdasarkan SPH tersebut, Bagian Pembelian membuat SDP (Surat Daftar Pembelian) dikirim ke Pimpinan untuk mendapat persetujuan. Jika Pimpinan menyetujui SDP tersebut, maka SDP yang telah disetujui dikirimkan kembali ke Bagian Pembelian. Jika tidak, maka kembali ke transaksi awal. Berdasarkan SDP yang sudah disetujui, Bagian Pembelian membuat SOP (Surat Order Pembelian) rangkap 4. Lembar ke-1 dikirim kepada Supplier. Lembar ke-2 dikirim ke Bagian Keuangan. Lembar ke-3 dikirim ke Bagian Gudang dan lembar ke-4 disimpan sebagai arsip. Supplier menerima SOP lembar ke-1 dari Bagian Pembelian. Kemudian Supplier membuat faktur rangkap 2. Lembar ke-1 dikirim beserta barang pesanan ke Bagian Pembelian. Lembar ke-2  disimpan sebagai arsip. Bagian Pembelian menerima faktur beserta barang pesanan dari Supplier. Kemudian, faktur dan barang dikirim ke Bagian Gudang. Bagian Gudang menerima barang dan mencatat barang masuk berdasarkan SOP lembar ke-3 dan membuat LPB (Laporan Penerimaan Barang) rangkap 3. Lembar ke-1 dikirimkan ke Bagian Pembelian. Lembar ke-2 dan faktur dikirim ke Bagian Keuangan. Dan lembar ke-3 disimpan sebagai arsip. Bagian Keuangan menerima SOP lembar ke-2, Faktur serta LPB lembar ke-2 dari Bagian Gudang. Berdasarkan SOP lembar ke-2, Faktur dari Bagian Pembelian serta LPB lembar ke-2, Bagian Keuangan membuat Laporan Pembelian Kredit (LPK) rangkap 2. Lembar pertama diserahkan ke Pimpinan dan lembar kedua disimpan sebagai arsip.

C.Kesimpulan
Dalam pembelian kredit umumnya sebelum melakukan transaksi pembelian harus mendapat otorisasi terhadap pembelian yang dilakukan.

D.Referensi
Jogiyanto. 2000. Sistem Informasi Akuntansi Berbasis Komputer, Konsep Dasar Dan Komponen. BPFE. Yogyakarta.
Mulyadi. 2000. Sistem Informasi Akuntansi. Edisi Ketiga. Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN. Yogyakarta.